INTERNAL dan EKSTERNAL MONETARY SHOCK

TERHADAP GROSS DOMESTIC PRODUCT INDONESIA

PERIODE 1984:1 – 2006:4

ABSTRACT

Economic stabilization is the main concern of Indonesian Monetary policy, reflect with price stabilization (achieving low inflation and economic growth (increasing output). This paper analyses internal and eksternal monetary shock on  output in Indonesia. The Analyses based on variance decomposition and impulse response function generated from a vector autoregression model. The result indicate that internal and eksternal monetary shock are transmitted in Indonesia and  influences real output. From that result, monetary shock can make Indonesia economy activity unstable. Bank Indonesia must be careful and prepare anticipatory action in preventing the happening of economic fluctuation in Indonesia.

Keywords : Monetary shock, small open economy, output (GDP)

ABSTRAK

Stabilisasi ekonomi adalah perhatian utama dalam kebijakan moneter di Indonesia, yang direfleksikan dengan stabilisasi harga (mencapai inflasi yang rendah) dan pertumbuhan ekonomi (kenaikan output). Penelitian ini menganalisis adanya guncangan internal dan eksternal dari variabel moneter terhadap output di Indonesia. Analisis didasarkan pada Variance Deomposistion dan fungsi Impulse Response dari model vector autoregresive. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa adanya guncangan internal dan eksternal dari veriabel moneter ditransmisikan ke Indonesia dan mempengaruhi output. Guncangan tersebut menyebabkan perekonomian Indonesia menjadi tidak stabil. Bank Indonesia harus berhati-hati dan menyiapkan aksi antisipasi dalam rangka untuk mencegah terjadinya fluktuasi ekonomi di Indonesia.

Kata kunci : Guncangan moneter, perekonomian kecil dan terbuka, output (GDP)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Permasalahan

Dalam studi makroekonomi, kenaikan output dapat dianalisis menjadi dua bagian, yaitu studi dalam jangka pendek dan studi dalam jangka panjang. Dalam jangka panjang kenaikan output dapat dipengaruhi oleh tekhnologi dan input faktor produksi, seperti kapital dan tenaga kerja. Investasi akan meningkatkan jumlah kapital. Sehingga adanya tambahan kapital tentu saja akan meningkatkan ketersediaan lapangan kerja yang kemudian dapat memicu peningkatan output nasional (Mubyarto,2003). Namun, faktor kunci yang paling berpengaruh terhadap kenaikan output nasional adalah kemajuan tekhnologi. Hal ini karena kemajuan tekhnologi dapat meningkatkan output pada tingkat kapital dan tenaga kerja yang tetap.

Dalam jangka pendek, perubahan output dapat dipengaruhi oleh permintaan angregat melalui pasar barang maupun pasar uang. Kenaikan permintaan agregat bisa dikontrol oleh kebijakan fiskal  melalui pajak dan pengeluaran pemerintah maupun kebijakan moneter melalui jumlah uang beredar (JUB) dan suku bunga. Dari sisi fiskal, mi, adanya penurunan pajak pada tingkat investasi dan pengeluaran pemerintah yang tetap, menyebabkan disposible income (pendapatan dikurangi pajak) menjadi meningkat sehingga mendorong tingkat konsumsi. Tingginya tingkat konsumsi menyebabkan permintaan agregat meningkat, sehingga berpengaruh terhadap kenaikan output (Samuelsen,2001:502).

Sedangkan dari sisi moneter, kenaikan permintaan agregat bisa dikontrol melalui jumlah uang beredar dan suku bunga. Adanya kenaikan JUB akan berpengaruh terhadap penurunan tingkat suku bunga. Suku bunga yang rendah menyebabkan cost of capital berkurang dan biaya untuk meminjam uang menjadi murah dan selanjutnya berdampak pada meningkatnya investasi dan kenaikan tingkat konsumsi. Dengan semakin tingginya tingkat investasi dan konsumsi maka permintaan agregat semakin meningkat dan berpengaruh terhadap kenaikan output nasional (Mishkin,1996). Hal ini sejalan dengan Taylor (1995) yang dalam penelitiannya membuktikan bahwa suku bunga mempunyai dampak yang signifikan terhadap pengeluaran konsumsi dan investasi. Dengan demikian adanya kenaikan permintaan agregat mengindikasikan adanya kenaikan output.

Namun, seringkali perekonomian terpukul akibat adanya shock atau guncangan. Guncangan tersebut dapat berasal dari variabel moneter domestic maupun luar negeri yang dapat mempengaruhi komponen permintaan agregat (Friedman dan Schawrtz,1963).  Variabel moneter tersebut antara lain  berupa jumlah uang beredar, suku bunga, inflasi maupun nilai tukar. Internal Monetary Shock atau guncangan pada variabel moneter domestik tersebut bisa berupa adanya perubahan kebijakan oleh otoritas moneter, seperti kebijakan moneter ekspansif atau kontraktif, yang dapat berpengaruh terhadap timbulnya money supply shock dan interest rate shock. Selain itu adanya inflation shock, turut berpengaruh terhadap penerapan kebijakan moneter yang diambil. Yaitu apakah bank sentral menerapkan kebijakan moneter ekspansif atau kontraktif . Sehingga adanya shock pada variabel moneter secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap permintaan agregat dan selanjutnya terhadap output.

Internal monetary shock dapat menyebabkan penurunan output nasional. Misalnya, adanya kebijakan moneter kontraktif, yaitu penurunan JUB akan menyebabkan suku bunga domestic mengalami shock (meningkat) dan menimbulkan konsekuensi pada penurunan output nasional. Kenaikan suku bunga domestik menyebabkan tersendatnya upaya menstimulasi sektor riil perekonomian. Tingginya suku bunga akan menyedot dana tersedia ke dalam aset-aset seperti SBI, yang berarti bahwa lebih sedikit dana tersedia untuk investasi. Tingginya suku bunga juga akan menyebabkan masyarakat merelokasi pendapatan ke dalam aset-aset simpanan dan menahan tingkat konsumsi. Lebih rendahnya tingkat investasi, konsumsi dan pengikisan nilai aset yang terjadi akibat inflasi akan menyebabkan tertekannya permintaan agregat masyarakat, sehingga pertumbuhan ekonomi menjadi terhambat.

Money supply  shock menyebabkan kenaikan output bergerak pada arah yang negatif. Hal ini terjadi karena  uang beredar tidak lagi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, namun justru menimbulkan inflasi. Christiano and Eichenbaum (1992)  menemukan fakta bahwa  money supply  shock menyebabkan tingkat suku bunga dan pertumbuhan ekonomi bergerak pada arah yang tidak diinginkan.Dengan kata lain, adanya kenaikan pada JUB yang diikuti oleh tingkat suku bunga fed menyebabkan output turun. Penyebabnya adalah berbagai perubahan mendasar yang mempengaruhi pelaksaan manajemen moneter di Indonesia. Berbagai perubahan tersebut adalah : (1). Reformasi pada sektor dan keuangan perbankan mendorong berkembangnya inovasi produk keuangan yang menyebabkan tidak stabilnya hubungan antara inflasi dan uang. (2). Terjadinya proses pemisahan kegiatan antara sektor moneter dan sektor riil (decoupling) menyebabkan fungsi permintaan uang menjadi kurang stabil. (3). Sukses pembangunan ekonomi Indonesia mendorong derasnya aliran masuk dari luar negeri. Namun, aliran dana tersebut, khususnya yang berjangka pendek sangat rentan terhadap rumor dan spekulasi sehingga sewaktu-waktu dapat berbalik menjadi aliran dana ke luar negeri.

Selanjutnya, tingginya tingkat inflasi sangat berpengaruh terhadap kenaikan output di Indonesia. Hal ini karena inflasi berpengaruh terhadap keputusan konsumsi masyarakat, pemerintah maupun bisnis. Dimana konsumsi adalah salah satu komponen penyusun permintaan agregat. Sehingga  bila inflasi naik, maka akan menurunkan daya beli masyarakat. Ketika secara agregat tingkat konsumsi berkurang, maka output juga akan berkurang. Bila pergeseran agregat demand ini terus berlanjut dan menyebabkan sektor bisnis menjadi lemah, maka akan menyebabkan perekonomian mengalami resesi.

Indonesia yang memenuhi criteria “small and open economiy”, menyebabkan setiap goncangan eksternal (eksternal monetary shock) yang terjadi dalam perekonomian dunia akan mempengaruhi perekonomian di Indonesia. Adanya external monetary shock atau guncangan pada variabel moneter luar negeri bisa berupa exchange rate shock, yaitu perubahan sistem nilai tukar yang dianut maupun pergerakan nilai tukar domestik terhadap mata uang asing, serta fluktuasi pada tingkat suku bunga dunia, inflasi, dan jumlah uang beredar.   Guncangan-guncangan tersebut dapat mempengaruhi perekonomian domestik akibat adanya suatu mekanisme transmisi internasional yang mendorong Indonesia untuk merespon adanya guncangan tersebut.

External monetary shock mempunyai dampak negatif terhadap output Indonesia. Krisis mata uang bath di Thailand misalnya menyebabkan Indonesia ikut terseret dalam krisis keuangan tahun 1997. Hal ini karena depresiasi pada bath mendorong kenaikan import dan menurunkan eksport sehingga  menyebabkan transaksi berjalan Indonesia memburuk sehingga terus menekan nilai mata uang rupiah. Bank Indonesia yang menerapkan sistem nilai tukar tetap, merasa kesulitan dalam meredam terjadinya gejolak nilai tukar pada saat terjadinya krisis tahun 1997. Intervensi yang dilakukan oleh Bank Indonesia tidak banyak membantu dalam upaya stabilisasi mata uang rupiah dan membawa dampak semakin berkurangnya cadangan internasional Indonesia sehingga kenaikan output menjadi berkurang.

Dengan demikian, pada bulan Agustus tahun 1997 Bank Indonesia mulai menerapkan sistem nilai tukar mengambang, dimana nilai tukar rupiah ditentukan melalui mekanisme pasar. Penerapan sistem nilai tukar mengambang mempunyai beberapa implikasi terhadap kebijakan moneter Indonesia. Di satu sisi, penerapan sistem nilai tukar ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi melalui mekanisme jalur nilai tukar. Setiap terjadi tekanan nilai tukar rupiah akibat kebijakan moneter akan disesuaikan melalui pengaruh suku bunga terhadap aliran modal sehingga berpengaruh terhadap penawaran ekspor dan permintaan impor, yang selanjutnya akan mempengaruhi GDP. Hal ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Tyer dan Yang (2001) yang menemukan fakta bahwa dengan diberlakukannya sistem nilai tukar mengambang di China, fluktuasi nilai tukarnya menjadi lebih fluktuatif tetapi pertumbuhan ekonominya tumbuh lebih cepat.

Namun disisi yang lain,  dengan penerapan sistem nilai tukar mengambang bebas, tugas otoritas moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi akibat guncangan eksternal menjadi semakin berat. Hal ini karena sistem nilai tukar mengambang bebas menyebabkan guncangan perekonomian dunia dapat ditransmisikan kepada perekonomian domestik. Sehingga menyebabkan perekonomian domestik menjadi semakin rentan terhadap guncangan dunia (Jimenez, 2001).

Guncangan pada tingkat suku bunga dunia juga dapat menurunkan output Indonesia. Indonesia yang merupakan small open economy dengan mobilitas modal yang relatif sempurna, maka tingkat bunga dalam perekonomiannya akan ditentukan oleh tingkat suku bunga dunia (Mankiw,2000:291). Oleh karena itu,  Indonesia mempunyai tingkat kerentanan yang tinggi terhadap terjadinya eksternal interest rate shock. Sebagai contoh, adanya foreign nominal shock seperti kebijakan moneter kontraktif dan meningkatnya suku bunga luar negeri, menyebabkan aliran modal dapat  berpindah dari dalam negeri  ke luar negeri. Bila terus berlanjut, tentu akan memperburuk perekonomian dalam negeri karena aliran dana tersebut tidak dapat digunakan untuk menambah investasi jangka panjang yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Untuk meredam efek guncangan internal maupun eksternal tersebut, sebagai otoritas moneter, bank sentral telah menerapkan kebijakan moneter. Kebijakan moneter dapat berbentuk pengendalian besaran moneter dan atau suku bunga untuk mencapai perkembangan kegiatan perekonomian yang diinginkan (Warjiyo,2004:62). Mekanisme transmisi kebijakan moneter saat ini adalah hal penting yang dimiliki pemerintah untuk menstabilkan siklus bisnis. Bank Sentral bisa mengontrol perekonomian ketika pengangguran tinggi atau ketika harga meningkat terlalu cepat.

Tujuan kebijakan moneter seperti yang diamandatkan oleh UU No.23/1999 tentang Bank Indonesia, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pengendalian besaran moneter. Besaran moneter ini meliputi  jumlah uang beredar dan atau suku bunga. Kebijakan moneter dikatakan berhasil bila sasaran-sasaran perekonomian dapat tercapai. Sasaran-sasaran perekonomian tersebut seperti kenaikan output, stabilitas pada harga, suku bunga, maupun stabilitas nilai tukar.

Dalam penelitian ini, variabel guncangan internal akan direpresentasikan oleh variabel Indonesia, sedangkan guncangan eksternal akan direpresentasikan oleh variabel  perekonomian Amerika Serikat. Beberapa hal yang mendasari pemilihan variabel Amerika sebagai representasi dunia adalah karena (Mansor,2003): (1) Penggunaan Dollar Amerika Serikat yang dominan dalam transaksi internasional, nilai dollar US yang relatif stabil serta diterimanya sebagai alat tukar diberbagai negara di dunia. (2). Tingkat suku bunga  fed cukup berpengaruh terhadap penetapan suku bunga di Indonesia, selain itu fluktuasinya relatif stabil. (3). Amerika Serikat adalah salah satu negara mitra dagang  dengan volume eksport-import yang tinggi dengan Indonesia.

Dari berbagai uraian diatas, maka akan menjadi suatu pembahasan yang menarik untuk melihat apakah ada hubungan kausalitas antara variabel domestik dan dunia yang direpresentasikan oleh Amerika Serikat. Serta melihat bagaimana internal dan eksternal shock terhadap GDP di Indonesia dan variance decompositions variabel GDP Indonesia, akibat adanya shock internal maupun eksternal tersebut. Variabel yang diuji antara lain  Jumlah Uang Beredar, tingkat inflasi, suku bunga, nilai tukar, dan GDP pada perekonomian Amerika Serikat dan Indonesia.   Periode penelitian ini yaitu  tahun 1984:01 sampai tahun 2006:04 dengan menggunakan tahun dasar 1984.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka rumusan masalahnya adalah  :

  1. Apakah ada hubungan kausalitas antar GDP, suku bunga, jumlah uang beredar, nilai tukar dan inflasi di Indonesia  dan di Amerika Serikat ?
  2. Bagaimanakah shock pada variabel GDP, suku bunga, jumlah uang beredar, nilai tukar dan inflasi Indonesia dan Amerika Serikat  terhadap GDP Indonesia?
  3. Bagaimanakah variance decompositions variabel GDP Indonesia, akibat adanya shock variabel  suku bunga, jumlah uang beredar, nilai tukar, dan inflasi baik di Indonesia maupun di Amerika Serikat ?

1.3 Tujuan Penelitian :

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan utama dari penelitian ini adalah:

  1. Menguji hubungan kausalitas antar variabel-variabel GDP, suku bunga, jumlah uang beredar, nilai tukar dan inflasi di Indonesia dan di Amerika
  2. Mengestimasi shock pada variable GDP, suku bunga, jumlah uang beredar, nilai tukar dan inflasi Indonesia dan Amerika Serikat dalam mempengaruhi GDP di Indonesia
  3. 3. Mengestimasi variance decompositions pada variabel  GDP Indonesia akibat adanya shock variabel  suku bunga, jumlah uang beredar, nilai tukar, dan inflasi di Indonesia maupun di  Amerika Serikat

1.4 Manfaat Penelitian :

  1. Memberikan pengetahuan mengenai hubungan kausalitas antara variable-variabel GDP, suku bunga, jumlah uang beredar, nilai tukar dan inflasi .
  2. Memberikan masukan bagi pemerintah Indonesia agar dapat memformulasikan kebijakan moneter yang mampu menciptakan keseimbangan internal dan eksternal.
  3. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai masukan, bahan informasi, dalam penelitian lebih lanjut

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1. Teori  Mundell-Fleming :

Asumsi penting dari teori Mundell Fleming adalah perekonomian kecil dan terbuka dengan mobilitas modal yang sempurna sehingga tingkat bunga dalam perekonomian akan ditentukan oleh tingkat bunga dunia (Mankiw,2000:291). Perekonomian kecil dan terbuka adalah perekonomian yang hanya sebagian kecil dari perekonomian dunia, sehingga tidak mempunyai dampak yang berarti. Perekonomian ini mempunyai ciri sebagai berikut :

  • Ketergantungan tinggi terhadap perekonomian global
  • Ketergantungan tinggi terhadap perubahan harga internasional
  • Tingkat kerentanan yang tinggi terhadap guncangan luar negeri.

Pertumbuhan ekonomi pada perekonomian terbuka melibatkan berbagai masalah secara luas, yang meliputi tingkat tabungan dan investasi nasional. Dalam jangka panjang, mencapai tingkat tabungan dan investasi yang tinggi adalah salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Selain tabungan dan investasi, pertumbuhan ekonomi pada perekonomian kecil dan terbuka juga sangat dipengaruhi oleh penggunaan tekhnologi yang tepat guna, kebijakan perdagangan dan iklim perekonomian yang sehat secara keseluruhan.

Investasi dan tabungan domestic ditentukan oleh pendapatan, suku bunga. Dalam perekonomian dunia, tingkat suku bunga riil dipengaruhi oleh pasar uang dunia. Pada tingkat suku bunga riil yang relative tinggi, tabungan domestic melebihi investasi domestic,sehingga kelebihan tabungan mengalir pada investasi di luar negeri yang lebih menguntungkan.

2.1.1.1 Permintaan Agregat Model Mundell-Fleming :

Analisis permintaan agregat yang disertai perdagangan dan keuangan internasional dapat dianalisis melalui model Mundell-Fleming, dimana ia adalah versi perekonomian terbuka dari model IS-LM. Asumsi penting dari model ini yaitu bahwa  perekonomian yang sedang dianalisis adalah perekonomian kecil dan terbuka dengan mobilitas modal yang sempurna sehingga tingkat bunga dalam perekonomian akan ditentukan oleh tingkat bunga dunia(Mankiw,2000:291).

  • Pasar Barang dan Kurva IS :

Persamaan untuk pasar barang adalah :

Persamaan ini menunjukkan bahwa Y (pendapatan agregat) adalah jumlah dari pengeluaran konsumsi (C) yang dipengaruhi oleh Disposible Income, investasi yang dipengaruhi oleh tingkat suku bunga dunia dengan hubungan yang negative, pengeluaran pemerintah, serta eksport bersih yang dipengaruhi oleh nilai tukar (e).

Kurva IS diturunkan dari kurva eksport bersih dan perpotongan Keynesian. Dimana seperti ditunjukkan pada gambar (a), kenaikan dalam nilai tukar / kurs, akan mengurangi eksport bersih. Sedangkan pada gambar (c), penurunan dalam eksport  akan menggeser kurva pengeluaran kebawah, sehingga menurunkan pendapatan. Jadi kurva IS menujukkan hubungan antara nilai tukar dan pendapatan : Semakin tinggi nilai tukar, maka semakin rendah tingkat pendapatan.

  • Pasar Uang dan Kurva LM

Persamaan pasar uang :

Artinya, penawaran dari keseimbangan uang Riil akan sama dengan jumlah permintaan. Keseimbangan uang riil ini berhubungan terbalik dengan tingkat bunga dunia dan berhubungan positif dengan pendapatan.

  • Keseimbangan IS_LM Model Mundell-Fleming

Berdasarkan model Mundell-Fleming, perekonomian kecil dan terbuka bisa dijelaskan dengan persamaan :

Keseimbangan untuk perekonomian ditemukan pada perpotongan kurva IS dan LM. Perpotongan ini menujukkan kurs dan tingkat pendapatan dimana pasar barang dan pasar uang berada dalam keseimbangan.

Gambar 2.4

Keseimbangan Kurva IS-LM

Sumber : Mankiw (2000:295)

Dari kurva IS-LM diatas dapat diturunkan menjadi  Kurva Permintaan Aggregate (AD). Pergeseran kurva Agregat Demand ini disebabkan oleh adanya ekspansif/kontraksif suatu kebijakan. Kebijakan moneter ekspansif bisa berupa kenaikan pengeluaran pemerintah, penurunan pajak, kenaikan jumlah uang beredar ataupun penurunan tingkat bunga. Kebijakan ini akan mengeser kurva AD ke arah kanan, yaitu dari AD ke AD’ seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.4. di bawah ini.

Gambar 2.5

Penurunan Kurva AD

Penurunan Kurva AD dari persamaan IS-LM diatas dapat dirumuskan

AD: Y = f (, i ,E,Y*, G, T )

Penelitian ini akan menfokuskan pada variabel moneter baik domestik maupun luar negeri. Variabel moneter domestik antara lain GDP, JUB, inflasi, suku bunga SBI, dan nilai tukar. Variabel moneter luar negeri meliputi GDP,  ,jub, inflasi, dan suku bunga.  Sehingga pendekatan persamaan yang dibahas dengan menggunakan kurva Aggregate Demand yang diturunkan melalui Kurva IS-LM yaitu :

2.1.1.2 Mekanisme Model Mundell Fleming :

2.1.1.2.1 Analisis Monetary Shock dengan  Nilai Tukar Tetap :

Kurs tetap mengarahkan kebijakan moneter suatu negara pada tujuan tunggal, yaitu mempertahankan kurs pada tingkat yang telah ditetapkan. Pada sistem ini, bank sentral akan membeli atau menjual mata uang domestik untuk mata uang asing pada harga yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pada sistem nilai tukar tetap, kebijakan moneter tidak mempunyai pengaruh terhadap perekonomian. Ketika Bank Sentral menetapkan kebijakan moneter ekspansif yaitu akan meningkatkan jumlah uang beredar, dampak awal yang terjadi adalah  menggeser kurva LM ke kanan, yang akan menurunkan nilai tukar. Akan tetapi, karena bank sentral bertugas untuk memperdagangkan mata uang asing dan domestik pada kurs yang tetap,pialang dengan cepat menanggapi penurunan nilai tukar dengan menjual mata uang domestik ke Bank Sentral yang menyebabkan jumlah uang beredar dan kurva LM kembali ke awalnya.

Sehingga, kebijakan moneter yang bisa diterapkan adalah mengubah nilai dimana nilai tukar adalah tetap.Bank sentral bisa menurunkan atau meningkatkan nilai tukar.  Penurunan nilai mata uang disebut devaluasi yang menggeser kurva LM kekanan karena memperbesar eksport netto dan meningkatkan pendapatan. Kenaikan nilai mata uang disebut revaluasi yang menggeser kurva LM kekiri mengurangi eksportt netto dan menurunkan pendapatan agregat.

Gambar 2.6

Kebijakan Moneter Ekspansif dalam Sistem Nilai Tukar Tetap

2.1.1.2.2 Analisis Monetary Shock dengan Nilai Tukar Mengambang

Pada negara yang menganut system nilai tukar mengambang, kurs akan dibiarkan berfluktuasi dengan bebas dalam menanggapi kondisi perekonomian yang sedang berubah. Sebagai contoh, misalkan  Bank Sentral meningkatkan jumlah uang beredar, maka kenaikan JUB akan meningkatkan keseimbangan uang riil sehingga akan menggeser kurva LM kekanan. Maka kenaikan dalam penawaran uang akan meningkatkan pendapatan dan menurunkan nilai tukar.

Kebijakan moneter mempengaruhi pendapatan dengan mekanisme transmisi yang berbeda. Dalam perekonomian kecil dan terbuka, tingkat bunga akan ditentukan oleh tingkat bunga dunia. Ketika penawaran uang menekan tingkat bunga domestic, maka modal akan mengalir ke Luar Negeri karena investor akan mencari keuntungan dimana saja. Sehinga aliran modal yang keluar akan melindungi suku bunga domestic agar tidak turun. Selain itu, karena aliran modal yang keluar akan meningkatkan penawaran mata uang domestic di pasar kurs mata uang asing, maka akan mengalami depresiasi, sehingga barang domestic relative lebih mahal dibandingkan barang dari luar negeri dan meningkatkan eksport bersih. Maka, dalam perekonomian kecil dan terbuka kebijakan moneter akan mempengaruhi pendapatan dengan mengubah nilai tukar, bukan tingkat bunga.

Gambar 2.7

Kebijakan Moneter Ekspansif dalam Sistem Nilai Tukar Mengambang

Gambar diatas, menunjukkan bahwa kenaikan dalam penawaran uang akan menggeser kurva LM ke kanan, menurunkan nilai tukar dan meningkatkan pendapatan.

2.1.2 Kebijakan Moneter :

Kebijakan moneter menjadi salah satu aspek penting dari perkembangan ekonomi suatu negara yang semakin terbuka. Keterbukaan tersebut, tentu akan membawa konsekuensi pada perencanaan dan pelaksanaan kebijakan ekonomi makro termasuk kebijakan moneternya. Hal ini karena kebijakan moneter mempunyai pengaruh terhadap perdagangan internasional dan investasi domestik yang kemudian akan mempengaruhi perekonomian dalam dan luar negeri.

Ada  beberapa definisi tentang kebijakan moneter. Menurut Warjiyo, (2004:116) Kebijakan moneter merupakan kebijakan Bank Indonesia dalam bentuk pengendalian besaran moneter dan atau suku bunga untuk mencapai perkembangan kegiatan perekonomian yang diinginkan. Sedangkan definisi kebijakan moneter menurut Mischin adalah manajemen tentang uang dan suku bunga untuk mempengaruhi perekonomian. Tujuan dasar yang ingin dicapai oleh Bank Sentral (Mischin,2003:454-457), yaitu antara lain (1) pertumbuhan ekonomi / economic growth (2) kestabilan harga / price stability (3) Kesempatan kerja yang tinggi / high employment (4) Stabilitas suku bunga / interest stability (5) Stabilitas pasar keuangan / stability of financial market (6) Stabilitas nilai tukar / stability in foreign exchange rate.

Definisi lain diungkapkan oleh Tony Cavoly dan Ramkishen S. Rajan (2005), yang menyatakan bahwa :

“Monetary policy is how instrument of monertary policy is to be changed given the characteristics of the macro economy and the policy objectives of the monetary authority. Monetary policy implicitly assumes that the instrument of monetary policy will always react strongly to inflation (or some forecast of future inflation).Monetary policy provides a guide to the policymaker as to how to manipulate the instrument of monetary policy; the inflation target simply makes a statement of what the instrument is being ultimately used for.

Secara umum, ada dua kebijakan moneter yang dilaksanakan sesuai dengan siklus kegiatan bisnis (bussiness cycle) yaitu pertama, kebijakan moneter ekspansif, yang ditujukan untuk mendorong kegiatan ekonomi yang sedang mengalami resesi berkepanjangan. dan kedua kebijakan moneter kontraktif, yang ditujukan untuk memperlambat laju inflasi yang umumnya terjadi pada saat kegiatan perekonomian sedang mengalami boom.

Kebijakan moneter dalam perekonomian terbuka adalah kebijakan moneter yang telah memperhitungkan perilaku ekonomi pada saat hubungan perdagangan dan keuangan antar negara-negara di dunia  terintegrasi. Semakin besar transaksi perdagangan dan keuangan internasional, maka semakin besar pula aliran dana yang keluar masuk pada negara yang bersangkutan, sehingga akan mempengaruhi jumlah uang yang beredar, suku bunga, nilai tukar yang pada tahap akhir akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

Besarnya pengaruh aliran dana luar negeri tersebut sangat dipengaruhi oleh sistem nilai tukar dan sistem devisa yang dianut. Berikut adalah uraian dari sistem nilai tukar dan sistem devisa yang secara umum diterapkan :

  • Sistem Nilai Tukar

Nilai tukar suatu mata uang didefinisikan sebagai harga relative dari suatu mata uang terhadap mata uang lainnya. Secara umum ada tiga sistem nilai tukar (Warjiyo:2004, 69-71)., yaitu :

  1. Sistem nilai tukar tetap / Fixed Exchange Rate:

Yaitu penetapan nilai tukar mata uang terhadap mata uang negara lain pada suatu nilai tertentu yang tidak berubah dalam periode waktu tertentu. Kelebihan system ini adalah adanya kepastian nilai tukar bagi pasar. Namum disisi yang lain, kelemahan dari system ini adalah dibutuhkannya cadangan devisa yang besar. Hal ini karena Bank Sentral harus mempertahankan nilai tukar pada tingkat yang ditetapkan. Selain itu system ini juga mendorong dunia usaha untuk tidak melakukan perlindungan pada nilai valuta asingnya  bila terjadi perubahan nilai tukar. Pada umumnya, system nilai tukar tetap diterapkan oleh negara yang mempunyai cadangan devisa besar dengan system devisa yang relative terkontrol.

  1. Sistem Nilai Tukar Mengambang terkendali / Managed Floating Exchange Rate:

Adalah system nilai tukar dimana Bank Sentral menetapkan batasan pergerakan nilai tukar pada suatu kisaran tertentu. Nilai tukar dibiarkan sesuai dengan mekanisme pasar selama masih berada dalam batas kisaran intervensi, tetapi akan dikontrol oleh pemerintah ketika keluar dari batas kisaran intervensi. Intervensi pemerintah atas nilai tukar terjadi ketika pemerintah membeli atau menjual valuta asing untuk mempengaruhi kurs.

  1. Sistem Nilai Tukar Mengambang Bebas / Free Floating Exchange Rate:

Pada sistem nilai tukar mengambang bebas, pergerakan nilai tukar murni berasal dari permintaan dan penawaran (Samuelsen.2001:319). Intervensi yang dilakukan oleh pemerintah tidak diarahkan pada pencapaian target nilai tukar pada suatu kisaran tertentu, tetapi diarahkan untuk menghindari gejolak nilai tukar yang berlebihan di pasar. Kelebihan system ini adalah tidak diperlukannya cadangan devisa yang besar karena Bank Sentral tidak harus mempertahankan nilai tukar pada suatu kisaran tertentu. Sedangkan kelemahan sistem ini adalah adanya resiko ketidakpastian pada dunia usaha akibat berfluktuasinya nilai tukar. Sistem ini umumnya banyak diterapkan pada negara yang mempunyai cadangan devisa yang relative kecil sedangkan sistem devisa yang dianut cenderung bebas.

  • Sistem Devisa,

Devisa merupakan asset keuangan yang digunakan dalam transaksi internasional. Secara umum ada tiga sistem devisa, yaitu :

  1. Sistem Devisa terkontrol :

Devisa pada dasarnya adalah milik negara, sehingga perolehan devisa harus diserahkan kepada negara, sedangkan penggunaan devisa harus mendapatkan izin dari pemerintah.

  1. Sistem Devisa semi terkontrol :

Pada sistem ini, kewajiban penyerahan dan izin penggunaan devisa dari negara hanya diterapkan untuk jenis devisa tertentu, sedangkan untuk jenis devisa lainnya, masyarakat bebas untuk memperoleh dan menggunakannya.

  1. Sistem Devisa Bebas :

Masyarakat bebas untuk memperoleh dan menggunakan devisa.

2.1.2.1  Tujuan dan Target kebijakan Moneter :

a.  Stabilitas Harga (Price Stability):

Strategi kebijakan moneter diarahkan secara konsisten pada kestabilan harga melalui pencapaian target inflasi jangka panjang. Stabilitas harga dapat dilihat dari dua hal (Svensson,1999), yaitu : (1) Consumer Price Index,yang mencerminkan tingkat inflasi atau biaya rata-rata kebutuhan pokok konsumen, dan (2) Level Inflasi, dengan menggunakan dua acuan yaitu point target dan mid point of the target range.

Ada beberapa alasan mengapa kestabilan harga diperlukan dalam pembangunan ekonomi. Yaitu karena inflasi menyebabkan sejumlah biaya sosial yang harus ditanggung oleh masyarakat, antara lain (Blanchard, 2000: 535-536) :

  1. Money Ilution : Kekayaan seseorang menjadi berkurang akibat adanya inflasi (Nominal versus Real Money), sehingga menimbulkan dampak negatif pada distribusi pendapatan. Masyarakat berpendapatan rendah menanggung biaya inflasi dengan turunnya daya beli mereka, sedangkan masyarakat menengah ke atas memiliki aset finansial seperti tabungan dan deposito yang dapat melindungi kekayaan mereka dari inflasi.
  2. Inflation Variability : Timbulnya ketidakpastian / uncertainty akibat semakin banyaknya variabel inflasi. Hal ini berarti bahwa aset finansial seperti obligasi dan saham menjadi lebih berisiko.  Iklim perekonomian yang tidak pasti, menyebabkan investor domestik dan asing enggan untuk berinvestasi, sehingga akan mengurangi potensi pertumbuhan ekonomi.
  3. Shoe-Leather Cost : Dalam jangka pendek, inflasi yang tinggi menyebabkan tingkat suku bunga nominal meningkat. Hal ini dilakukan oleh bank agar nasabahnya tetap menyimpan uangnya di bank, tetapi disisi lain, hal ini mengakibatkan bunga kredit akan naik, sehingga para pelaku ekonomi enggan untuk berinvestasi.
  4. Tax Distortion : Semakin tinggi inflasi maka semakin tinggi pajak.
  5. Inflasi menyebabkan eksport lebih mahal dan tidak kompetitif dalam pasar regional dan dunia. Hal ini menyebabkan neraca pembayaran semakin terpuruk dan meningkatkan hutang sehingga menimbulkan ketergantungan pada negara lain (pemberi bantuan).
  6. Ketidakstabilan perekonomian, yang tercermin dari tingginya volatilitas nilai tukar, tidak stabilnya pasar keuangan, serta tingginya sensitivitas aliran modal.

Inflasi terjadi melalui 2 cara, yaitu :

  1. Demand Pull Inflation :

Inflasi yang disebabkan oleh kenaikan permintaan. Bila permintaan agregat meningkat maka menyebabkan kurva permintaan bergeser kekanan sehingga harga naik.

  1. Cost Push Inflation :

Inflasi yang disebabkan oleh kenaikan biaya faktor produksi, seperti kenaikan harga faktor produksi, seperti kenaikan harga minyak, kenaikan upah tenaga kerja,devaluasi atau depreciasi mata uang yang meningkatkan harga import, pajak tidak langsung.

Gambar 2.8

Kurva Demand Pull Inflation dan Cost Push Inflation

Demand Pull Inflation Cost Push Inflation

  1. Kenaikan Output (Gross Domestik Product / GDP).

Pertumbuhan ekonomi menurut Blanchard (2000:190) didefinisikan sebagai kenaikan dalam agregat output dari barang atau jasa yang pada umumnya diukur dengan Produk Domestik Bruto. Pertumbuhan ekonomi ini bisa dicapai melalui perbaikan dalam bidang kuantitas dan kualitas dalam faktor produksi, seperti tanah, tenaga kerja, modal dan skill.

c.   Stabilitas Suku Bunga (Interest Rate Stability) :

Stabilitas dalam suku bunga adalah hal yang sangat penting, karena fluktuasi dalam suku bunga menyebabkan ketidakpastian dalam perekonomian. Sehingga dalam implementasi kebijakan moneter Bank Indonesia menggunakan pengendalian besaran moneter dan atau suku bunga untuk mencapai perkembangan kegiatan perekonomian yang diinginkan. Definisi bunga menurut Samuelsen dan Nordhauss (2002: 514) adalah “ the payment made for the use of money”,sedangkan suku bunga adalah “the amount of interest paid per unit of time expressed as a percentage of the amount borrowed…”. dan tingkat bunga adalah “the price of borrower must pay to secure scarce loanable funds form a lender for an agreed upon time period”.

Secara umum suku bunga dibedakan menjadi dua jenis, yaitu pertama, suku bunga nominal, yaitu tanpa ada penyesuaian terhadap inflasi, dan kedua, suku bunga riil, yang sudah disesuaikan dengan tingkat inflasi. Fisher merumuskan suku bunga nominal dan riil dalam persamaan berikut ini :

i = r + π       atau

i = r – π

Dimana :

i     : Tingkat bunga nominal

r     : Tingkat bunga riil

π    : Tingkat inflasi

d. Stabilitas Pasar Keuangan / stability of financial market :

Pasar keuangan mempunyai peran penting dalam mendukung suatu perekonomian yang diinginkan. Pasar keuangan adalah suatu pasar yang menghubungkan pihak yang kelebihan dana dengan pihak-pihak yang membutuhkan dana, sehingga melalui proses ini akan tercipta suatu efisiensi ekonomi. Sistem keuangan yang efektif dan efisien memberi sumbangan terhadap terciptanya suatu makroekonomi yang stabil.

2.1.2.3 Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter.

Kebijakan moneter menjadi salah satu aspek penting untuk menunjang perkembangan ekonomi suatu negara. Hal ini karena kebijakan moneter sebagai usaha dalam mendorong pertumbuhan ekonomi pada tingkat inflasi yang diinginkan. Kebijakan moneter yang ditempuh tersebut  dipengaruhi oleh suatu proses tentang bagaimana kebijakan moneter mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Proses tersebut biasa dikenal dengan mekanisme transmisi kebijakan moneter yang pada awalnya mengacu pada peranan uang dalam perekonomian (Direct Monetary Channel).             Dalam perkembangan selanjutnya, mekanisme transmisi kebijakan moneter juga terjadi melalui 5 jalur lainnya (Warjiyo, Agung, 2002:9-20 dan Cavoly,2005 ), yaitu :

  1. Interest Rate Channel :

Bahwa kebijakan moneter dapat mempengaruhi permintaan agregat melalui perubahan suku bunga. Dalam kebijakan moneter Ekspansif : M↑→ ir ↓→I↑→Y↑

Biaya Modal

Skema :

JUB

b. Exchange Rate Channel :

Bahwa kebijakan moneter dapat mempengaruhi perkembangan penawaran dan permintaan agregat, selanjutnya output dan harga. Dalam kebijakan moneter Ekspansif : M↑→ ir ↓→E↓→NX ↑→Y ↑. Skema :

c. Other Asset Price Channel :

Bahwa kebijakan moneter berpengaruh pada perubahan harga aset dan kekayaan masyarakat, yang selanjutnya mempengaruhi pengeluaran investasi dan konsumsi.

Dalam kebijakan moneter Ekspansif : M↑→ ir ↓→P aset ↑→ I ↑→ Y ↑. Skema :

JUB

d. Credit Channel :

Bahwa kebijakan moneter mempengaruhi harga dan output melalui kredit perbankan. Jalur : (1). Bank Lending Channel yang menekankan  pengaruh kebijakan moneter pada kredit karena kondisi keuangan bank, dan (2). Firm Balance sheet Channel Channel yang menekankan  pengaruh kebijakan moneter pada kredit karena kondisi keuangan bank. Skema :

e. Expectation Channel :

Bahwa kebijakan moneter dapat mempengaruhi pembentukan ekspektasi inflasi dan kegiatan ekonomi. Dalam kebijakan moneter Ekspansif : M↑→ P(Inflasi) ↑→ Ekspektasi Inflasi ↑. Skema :

2.1.2.4 Kerangka Operasional Kebijakan Moneter.

Kerangka operasional kebijakan moneter meliputi instrument, sasaran operasional,dan sasaran antara untuk mencapai sasaran akhir yang diinginkan. Instrument digunakan untuk mempengaruhi sasaran operasional yang ditetapkan, sedangkan sasaran operasional diperlukan agar proses transmisi berjalan sesuai dengan rencana. Akibat adanya tenggat waktu antara pelaksanaan kebijakan moneter dan hasil pencapaian sasaran akhir, maka diperlukan sasaran antara untuk mengetahui pergerakan ekonomi dan inflasi kedepan serta respon kebijakan moneter yang diperlukan.

Gambar 2.8

Kerangka Opersional Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter

Sumber: Warjiyo. Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter (2004).

2.2 Penelitian sebelumnya

Penelitian mengenai dampak fluktuasi dunia terhadap keseimbangan makroekonomi domestic sudah pernah dilakukan. Guido Lorenzoni (2006), dalam penelitiannya  yang berjudul “A Theory of Demand Shock” yang menemukan bahwa gucangan pada permintaan dapat meningkatkan output, tenaga kerja, dan inflasi dalam jangka pendek tetapi tidak berdampak pada perekonomian dalam jangka panjang. Penelitian lain  dilakukan oleh Hoffmaister dan Rodols (1997) yang menunjukkan bahwa fluktuasi output pada beberapa negara Asia dan Amerika latin lebih distimulus oleh guncangan dari  penawaran domestic. Guncangan dari luar negeri untuk negara-negara Amerika latin lebih besar bila dibandingkan dengan pengaruhnya pada negara-negara Asia.

Dengan menganalisis shock pada variabel output dalam dan luar negeri, tingkat harga, suku bunga dan nilai tukar, Arin dan Jolly (2005) menemukan fakta menarik dari studi empirisnya, yaitu bahwa inovasi kebijakan moneter pada perekonomian kecil dan terbuka ternyata juga berpengaruh terhadap  larger trading partner.

Penelitian tentang sumber-sumber fluktuasi ekonomi makro pada 22 negara berkembang dilakukan oleh Desroches (2004), Hasil penelitian menujukkan bahwa pada masing-masing negara terjadi perbedaan mekanisme dalam transmisi guncangan akibat output riil dan suku bunga dunia. System nilai tukar dan pembatasan aliran modal yang diterapkan pada masing-masing negara adalah faktor penting dalam menjelaskan mekanisme transmisi eksternal shock terhadap perekonomian makro domestic.

Dungey (2001), dalam penelitiannya yang melihat conduct dari kebijakan moneter dalam merespon guncangan ekonomi domestic dan luar negeri, menyimpulkan bahwa perubahan sasaran kebijakan moneter dapat menurunkan pertumbuhan output. Penelitian ini juga menyebutkan pentingnya kebijakan domestic dalam merespon guncangan internal dan eksternal untuk memaksimalkan keuntungan dalam negeri. Penelitian tentang dampak eksternal shock dan kebijakan moneter juga dilakukan oleh Parrado (2001). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa variabel harga dan nilai tukar terjadi hubungan. Sedangkan pengaruh variabel kebijakan moneter luar negeri hanya bersifat jangka pendek dan tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap perekonomian makro di negara yang diteliti, yaitu Chili.

2.3 Hipotesis dan Model Analisis

2.3.1 Hipotesis

Shock pada variabel moneter Indonesia dan luar dan Amerika Serikat yang diwakili oleh GDP, suku bunga, jumlah uang beredar, nilai tukar, inflasi akan mempengaruhi pembentukan GDP  di Indonesia.

2.3.2 Model Analisis

Penelitian inni menggunakan pendekatan VECM (Vector Error Correction Model), yang merupakan bentuk VAR yang terestriksi. VECM merestriksi hubungan jangka panjang variabel-variabel endogen agar konvergen ke dalam hubungan kointegrasinya, namun tetap membiarkan keberadaan dinamisasi jangka pendek. Langkah awal yang dilakukan adalah uji stasioneritas. Hal ini penting karena dalam analisis data time series, ketidakstasioneritasan dapat menyebabkan spurious regression atau hasil regresi yang tidak memiliki arti ekonomi. Langkah selanjutnya adalah mencari lag optimal dengan pengujian VAR dan menguji granger Causality untuk melihat hubungan antar variabel. Model persamaan dasar penelitian ini menggunakan fungsi dari Aggregate Demand yang dinamakan ‘Permintaan Aggregat Indonesia’ .

Dimana, AD adalah Agregate Demand, Y adalah  GDP Indonesia, adalah GDP Amerika, adalah Tingkat Inflasi Indonesia, sedangkan adalah Tingkat Inflasi Amerika, i adalah Tingkat Suku Bunga Nominal (SBI), dan adalah tingkat suku bunga fed (fed fund rate) dan E adalah Nilai Tukar Nominal. Dan M adalah jumlah uang beredar Indonesia sedangkan Mus adalah jumlah uang beredar di Amerika Serikat..Sehingga dari persamaan fungsi di atas dapat diturunkan model VECM sebagai berikut:

……………(2)

Dimana:

= error term

Gi = – (I – A1 - …- Ai)

i     = 1,…,k – 1

Π   = – (I – A1 – …-Ak)

zt merupakan vektor dari masing-masing variabel, yang terdiri dari  tingkat GDP, suku bunga, inflasi, jumlah uang beredar, dan nilai tukar pada negara Indonesia dan Amerika pada periode t. Matrik Π dapat ditulis Π = ab’, dimana kedua a dan b adalah (n x r) matrik kolom penuh. Matrik a menunjukkan speed of adjustment pada disequilibrium, sedangkan matrik b’ adalah matrik parameter kointegrasi. Rangking dari matrik Π adalah faktor penentu dalam menentukan jumlah vektor kointegrasi. Rangking dari Π adalah sama dengan jumlah vektor kointegrasi bebas.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif dan melakukan beberapa pengujian. Metode kuantitatif adalah metode dengan menggunakan penghitungan ekonometrika melalui Eviews 4.1. Sedangkan metode deskriptif digunakan untuk menginterpretasikan hasil etimasi penghitungan VECM dalam menjawab permasalahan. Model VECM (Vector Error Correction Model) digunakan untuk mengetahui pengaruh internal dan eksternal shock terhadap pembentukan GDP Indonesia melalui fungsi impulse response.

3.2. Identifikasi Variabel

Pada model VAR, ia memperlakukan seluruh variabel secara simetris tanpa mempermasalahkan variabel dependen dan independen (Sim,1982). Atau dengan kata lain model ini memperlakukan seluruh variabel sebagai variabel endogen. Sedangkan pada model VECM, meskipun secara umum variabel diperlakukan secara endogen tetapi boleh memasukkan variabel eksogen.

Dalam penelitian ini, variabel yang akan diuji meliputi variabel internal dan variabel eksternal. Variabel internal antara lain Gross Domestic Product (GDP), suku bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia), inflasi, jumlah uang beredar, dan nilai tukar Indonesia. Sedangkan variabel eksternal, akan direpresentasikan oleh GDP, suku bunga Fed, dan inflasi di Amerika Serikat.

Gross Domestic Product (GDP), yaitu nilai keseluruhan semua barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu (biasanya per tahun). Inflasi adalah kenaikan harga secara umum yang dicerminkan oleh Indeks Harga Konsumen. Jumlah Uang Beredar, yaitu jumlah uang yang beredar dalam perekonomian. Sedangkan nilai tukar adalah harga mata uang bila diukur dengan mata uang lainnya. Dan suku bunga (SBI dan fed fund rate) merupakan harga dari uang.

3.3. Definisi Operasional

Definisi operasional bertujuan untuk mendefinisikan variabel-variabel yang telah diindentifikasi sehingga terkandung penjelasan. Pada penelitian ini, analisis variabel yang digunakan menggunakan data  time series yang diukur secara kuartalan dari tahun 1984-2006. Berikut adalah definisi operasional dari tiap-tiap variabel :

  1. GDP Indonesia :

Nilai produk domestik bruto riil Indonesia atas harga konstan tahun 1984 yang diukur dalam miliar rupiah.

  1. GDP Amerika Serikat:

GDP dunia direpresentasikan oleh GDP Amerika, yaitu nilai produk domestik bruto atas harga konstan tahun 1984 yang dalam miliar dollar US.

  1. M2 Indonesia :

Adalah Jumlah Uang Beredar dalam arti luas yang meliputi uang kartal (uang kertas dan koin) ditambah uang giral ditambah uang kuasi di Indonesia (dalam miliar rupiah).

  1. M2 US :

Adalah Jumlah uang beredar dalam arti luas di Amerika Serikat, yaitu meliputi uang kartal (uang kertas dan koin), uang giral dan uang kuasi di Amerika Serikat (Miliar US dollar)

  1. Suku bunga SBI 3 bulan :

Merupakan tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia jangka pendek dengan periode 3 bulan yang diukur dalam persentase.

  1. Fed Fund Rate :

Adalah suku bunga Amerika Serikat, Fed Fund Rate yang diukur dalam persentase.

  1. Inflasi Indonesia :

Perubahan angka indeks harga konsumen (IHK) riil di Indonesia atas harga konstan tahun  1984.

  1. Inflasi Amerika Serikat :

Inflasi dunia direpresentasikan dengan inflasi di Amerika, yaitu perubahan angka indeks harga konsumen (IHK) riil di Amerika Serikat atas harga konstan tahun  1984.

  1. Nilai tukar :

Nilai tukar mata uang antara rupiah dengan dollar Amerika Serikat.

3.4. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data tersebut diperoleh dari International Financial Statistics, Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, dan Bank Indonesia. Data dunia yang direpresentasikan oleh data Amerika yang semuanya diambil dari International Financial Statistics. Sedangkan data domestik diperoleh melalui Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia.  Semua data merupakan data kuartalan dari tahun 1984:1 sampai dengan tahun 2006:4.

3.5. Prosedur dan Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan melalui metode dokumentasi, yaitu dengan mempelajari literature-literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti kemudian dihubungkan satu sama lain sehingga dapat diperoleh hasil yang benar-benar akan membantu dalam menjawab permasalahan yang diteliti. Prosedur tersebut meliputi studi kepustakaan (Library research), yang dilakukan dengan mengumpulkan berbagai informasi dan teori dari buku-buku pustaka, jurnal ekonomi yang relevan dengan penelitian. Prosedur selanjutnya adalah  pengumpulan data sekunder yang diperoleh dari sumber-sumber yang relevan dengan permasalahan. Langkah berikutnya adalah pengolahan data dengan Eviews 4.1. Setelah data diolah, kemudian dianalisa untuk memperoleh gambaran umum mengenai permasalahan yang dihadapi.

Teknik Analisis

3.6.1 VAR (Vector Auto Regresive):

Model ekonometri yang sering digunakan dalam analisis kebijakan makroekonomi dinamik dan stokastik adalah model vector autoregresive (VAR). VAR merupakan suatu sistem persamaan yang memperlihatkan setiap variabel sebagai fungsi linier dari konstanta dan nilai lag (lampau) dari variabel itu sendiri serta nilai lag dari variabel lain yang ada dalam sistem. Variabel penjelas dalam VAR meliputi nilai lag seluruh variabel tak bebas dalam sistem VAR yang membutuhkan identifikasi retriksi untuk mencapai persamaan melalui interpretasi persamaan.

VAR dengan ordo p dan n buah variabel tak bebas pada peride t dapat dimodelkan sebagai berikut:

…………………………………….(3.1)

Dimana :

:     Vektor variabel tak bebas

:     Vektor intersep berukuran n x 1

:     Matriks parameter berukuran n x 1

:     Vektor residual  berukuran n x 1

Asumsi yang harus dipenuhi dalam analisis VAR adalah semua variabel tak bebas bersifat stasioner, semua sisaan bersifat white noise, yaitu memiliki rataan nol, ragam konstan dan diantara variabel tak bebas tidak ada korelasi. Uji staioneritas data dapat dilakukan melalui pengujian terhadap ada tidaknya unit root dalam variabel dengan uji Augmented Dickey Fuller (ADF). Adanya unit root akan menghasilkan persamaan regresi yang spurious.

Pendekatan yang dilakukan untuk mengatasi persamaan regresi yang spurious adalah dengan melakukan diferensiasi atas variabel endogen dan eksogennya, sehingga diperoleh variabel yang stasioner dengan derajat I(n). Kestasioneran data melalui pendiferensialan belum cukup, kita perlu mempertimbangkan keberadaan hubungan jangka panjang dan jangka pendek dalam model.

Pendeteksian keberadaan kointegrasi ini dapat dilakukan dengan metode Johansen atau Engel-Granger. Jika variabel-variabel tidak terkointegrasi, maka dapat diterapkan VAR standar yang hasilnya akan identik dengan OLS, setelah memastikan variabel tersebut sudah stasioner pada derajat (ordo) yang sama. Jika pengujian membuktikan terdapat vektor kointegrasi, maka dapat diterapkan ECM untuk single equation atau VECM untuk system equation.

Pendekatan VAR dapat digunakan untuk melakukan forecasting yang lebih baik dibanding dengan menggunakan model simultan. VAR juga lebih sering menggunakan fungsi impulse Response untuk menganalisa pengaruh dari perubahan shock dari satu variabel terhadap variabel lain dalam model, serta variance decomposition untuk melihat seberapa besar sumbangan pengaruh dari suatu variabel terhadap variabel lain dalam model. Pendekatan ini juga dapat digunakan untuk melihat apakah setiap variabel dalam model mempunyai hubungan kausalitas satu dengan lainnya.

Keuntungan dari VAR (Insukindro,1992 : 2) yaitu :

1. Dalam menganalisa fenomena  jangka pendek dan jangka panjang, VAR mampu digunakan dengan banyak variabel.

2. Konsistensi antara pengujian empirik dengan teori ekonometrika mampu dibuktikan oleh VAR

3. VAR mampu mencari pemecahan terhadap persoalan variabel runtun waktu yang tidak stasioner (non stasionary) dan regresi lancung (spurious regresion) atau korelasi lancung (spurious correlation) dalam analisis ekonometrika.

Kelemahan dari VAR (Gujarati, 2003: 853), yaitu :

  1. Atheoritic :

Model VAR tidak berdasarkan teori, seperti halnya persamaan simultan.

  1. Forecasting :

Model VAR cenderung pada penekanan forecasting atau peramalan, sehingga kurang sesuai dalam menganalisis kebijakan.

  1. Lag length :

Permasalahan besar pada model VAR adalah  pada pemilihan panjang lag optimal yang tepat.  Karena semakin panjang lag, maka akan menambah jumlah parameter yang akan bermasalah pada degrees of freedom.

  1. Stasionerity :

Variabel dalam model harus stasioner atau tidak mempunyai akar unit. Apabila tidak stasioner, perlu dilakukan transformasi bentuk data, misalnya melalui first difference.

  1. Terdapat kesulitan dalam menginterpretasikan koefisien dalam parameter. Sehingga pendekatan ini hanya melihat fungsi impulse response dalam melakukan analisis. Hal ini disebabkan koefisien dalam model VAR hanya menujukkan hubungan antar variabel.

3.6.2 VECM (Vector Error Correction Model) :

VECM merupakan suatu model analisis ekonometrika yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkah laku jangka pendek dari suatu variabel terhadap jangka panjangnya akibat adanya shock yang permanen (Kostov dan Lingard, 2000). Insukindro (1992:2) menjelaskan bahwa analisis VECM juga dapat digunakan untuk mencari pemecahan terhadap persoalan variabel runtun waktu yang tidak stasioner (non stasionary) dan regresi lancung (spurious regresion) atau korelasi lancung (spurious correlation) dalam analisis ekonometrika. Namun demikian, Gujarati (2003:853) berpendapat bahwa VECM ini dinilai kurang cocok jika digunakan dalam menganalisis suatu kebijakan. Hal ini dikarenakan analisis VECM yang atheoritic dan terlalu menekankan pada forecasting atau peramalan dari suatu model ekonometrika.

Dalam mengestimasi model VECM, ada beberapa hal penting yang harus dilakukan (Harris,1995: 76), yaitu antara lain :

  1. Data yang digunakan dalam estimasi harus stasioner
  2. Identifikasi bentuk model
  3. Penentuan lag length optimal
  4. Menentukan  reduced rank setelah data stasioner dalam first difference
  5. Menentukan  deterministic variabel trend atau constan
  6. Lakukan uji kointegrasi

Persamaan pada VECM diperoleh dari persamaan VAR. Persamaan VAR adalah sebagai berikut:

~ IN(0, å)……………………..(3)

Dimana, zt merupakan vektor dari masing-masing variabel, yang terdiri dari  tingkat GDP, suku bunga, inflasi, jumlah uang beredar, dan nilai tukar pada negara Indonesia dan Amerika pada peride t. Dari persamaan (3) akan didapat persamaan VECM sebagai berikut (Harris,1995:77):

………………………(4)

Dimana Gi= – (I – A1 - …- Ai)

i = 1,…,k – 1

Π = – (I – A1 – …-Ak)

Matrik Π dapat ditulis Π = ab’, dimana kedua a dan b adalah (n x r) matrik kolom penuh. Matrik a menunjukkan speed of adjustment pada disequilibrium, sedangkan matrik b’ adalah matrik parameter kointegrasi. Rangking dari matrik Π adalah faktor penentu dalam menentukan jumlah vektor kointegrasi. Rangking dari Π adalah sama dengan jumlah vektor kointegrasi bebas. Ketika semua variabel yang ada stasioner pada level I(0), hal ini akan menjadi tidak menarik. Dengan kata lain persamaan model dapat diestimasi dengan menggunakan VAR pada level. Jika rank (r) = 0 maka matrik dinyatakan batal dan persamaan diatas akan mengusulkan model VAR dalam first difference. Sedangkan jika r ≤ (n-1) berarti terdapat kointegrasi, maka metode yang digunakan adalah VECM.

Untuk melakukan hipotesis r vector kointegrasi, ada dua tes statistic yang bisa digunakan (Harris, 1995 :87-88), yaitu pertama, tes trace statistic dimana  hipotesis nolnya adalah jumlah beda vektor kointegrasi lebih kecil atau sama dengan r dan kedua, adalah tes maximum eigenvalue. Persamaan tes trace adalah :

r = 0, 1, 2,..n – 2, n – 1 ………….(5 )

Sedangkan persamaan untuk tes maximum eigenvalue adalah :

r = 0, 1,2,…, n-2, n-1  ……………(6 )

Untuk melakukan uji terhadap kehadiran intercept dalam vektor kointegrasi, dapat dilakukan tes likelihood ratio. Asimtot statistiknya adalah :

………………………………………..(7)

li* dan li menandakan karakteristik root dari restricted dan unrestricted matrik Π secara berturut-turut. Menurut Enders (1995:170), nilai dari log (1 – li*) dan log (1 – li), seharusnya equivalent jika pembatasnya tidaklah mengikat. Nilai yang kecil dari tes statistik menunjukkan bahwa intersep dalam vektor kointegrasi dapat diterima. Adanya intersep pada vektor kointegrasi meningkatkan likelihood untuk menentukan suatu kombinasi linear stasioner dari n variabel.

Model Estimasi VECM ini dapat dimodelkan dengan rumusan jangka pendek dan jangka panjangnya ditulis sebagai berikut:

………..(8)

Persamaan Jangka Pendek
Persamaan Jangka Panjang

Persamaan jangka pendek dalam penelitian ini dapat ditulis dengan model sebagai berikut :

3.6.2.1  Uji Stasioneritas Data

Salah satu prosedur dalam estimasi model ekonomi pada data time series adalah dengan menguji apakah data tersebut stasioner atau tidak, yang biasa dikenal dengan stationery Stochastic Process.Data time series dikatakan stationer bila data tersebut tidak mengandung akar-akar unit (unit root). Dimana mean, variance, dan covariance konstan sepanjang waktu.Sebaliknya data time series dikatakan tidak stasioner jika mengandung akar-akar unit, dimana mean, variance, dan covariance data tersebut tidak konstan. Data yang mengandung akar unit menyebabkan data tidak dapat dianalisis pada setiap waktu, atau terdapat pengaruh waktu pada data time series tersebut. Dan bila data tersebut diregresikan pada data time series lainnya, maka akan menimbulkan susperious regression sehingga data tidak dapat diestimasi atau palsu.

Uji stasioner data dilakukan pada derajat yang sama, yaitu data dalam bentuk ”level” atau dalam bentuk ”difference”. Data dalam bentuk “level” adalah data yang masih dalam periode yang sama atau pada periode t. Notasi derajat integrasi dalam bentuk “level” adalah (o), sehingga bila dimasukkan pada suatu fungsi (Enders:1995) :

Y= f(t)……………………………………………………………………………..(…)

Data dalam bentuk ”difference” merupakan data yang telah diturunkan dengan periode sebelumnya. Notasi derajat dalam bentuk first different adalah (1), dengan bentuk fungsi :

………………………………………………………………….(…)

Bila setelah diuji terdapat akar unit, maka hasil estimasi yang dilakukan mengakibatkans spurious regression dimana koefisien parameter hasil estimasi tidak efisien  dan tidak dapat diinterpretasikan secara ekonomi.

Sementara itu, uji derajat integrasi dilakukan apabila data-data yang diuji pada uji akar unit dalam bentuk ”level” tidak stasioner. Prosedur pengujian derajat integrasi menggunakan uji Augmented Dickey-Fuller (ADF) dengan cara data-data yang diuji diubah dalam bentuk ”first Difference”.Bentuk persamaan uji stasioner tersebut dapat dituliskan sebagai berikut :

Dimana :

= Bentuk dari first different

= Intersept

Y         = Variabel yang diuji stationeritasnya

P          = Panjang lag yang digunakan dalam model

= error term

Penentuan Hipotesis

Ho : ada unit root

Hi : tidak ada unit root

Jika nilai ADFstatistik lebih kecil dari Mackinnon critical value, maka Ho ditolak dan data tidak ada unit root sehingga data stasioner. Demikian pula sebaliknya, jika nilai ADFstatistik lebih besar dari t-statistik pada Mackinnon critical value maka Ho dterima yang artinya terdapat unit root pada data yang diuji.

Jika dari hasil uji stasioneritas berdasarkan uji ADF diperoleh data seluruh variabel belum stasioner pada level, maka untuk memperoleh data yang stasioner dapat dilakukan dengan cara differencing data, yaitu dengan mengurangi data tersebut dengan data periode sebelumnya, sehingga akan diperoleh data dalam bentuk first difference.

3.6.2.2. Penentuan Lag Optimal

Penentuan lag sangat penting, Bila menggunaka lag yang terlalu sedikit maka residual dari regresi tidak akan menampilkan proses white noise sehingga model tidak dapat mengestimasi actual error secara tepat, sehingga  dan standar kesalahan tidak disestimasi secara baik.  Namun, bila kita menggunakan terlalu banyak lag, akan dapat mengurangi kemampuan untuk menolak Ho karena penambahan parameter yang terlalu banyak akan mengurangi degree of`freedom (Gujarati, 2003:849). Ada beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk mengetahui optimal atau tidaknya lag yang digunakan, yaitu antara lain AIC, SIC, FPE, dan HQ seperti yang tertera di bawah ini :

Akaike Information Criterion (AIC) : -2 (1/T) + 2 (k+T)

Schwartz Information Criterion (SIC) : -2 (1/T) + k log (T) / T

Hannon –Quinn Informatiion Criterion (HQ) : -2 (1/T) + 2 k log (log(T))/ T

Dimana :

l              = nilai fungsi log likelihood

l              = -

= Sum of Squared Residual

T             = Jumlah Observasi

k             = Parameter yang diestimasi

Pemilihan lag optimal dengan menggunakan kriteria informasi tersebut didasarkan pada nilai lag yang paling kecil diantara berbagai lag yang diajukan. Dalam penelitian ini lag optimal yang digunakan  sesuai dengan kriteria Schwarz Criterion (SC).

3.6.2.3.  Uji Kausalitas Granger

Metode yang digunakan untuk menganalisis hubungan kausalitas antar variabel yang diamati adalah dengan uji kausalitas granger. Dalam uji kausalitas Granger, dua perangkat data time series yang linier berkaitan dengan variabel X dan Y. Uji Kausalitas Granger meneliti pengaruh x terhadap y dengan melihat apakah nilai sekarang dari y bisa dijelaskan dengan nilai histories y serta melihat apakah penambahan lag x bisa meningkatkan kemampuan menjelaskan model. Secara umum bentuk persamaan Granger Causality antara:

……………………………(…)

……………………………(…)

Uji Kausalitas Granger  digunakan untuk melihat arah hubungan antara variabel-variabel yang terdapat pada model, antara lain Variabel domestik yaitu GDP, suku bunga SBI, inflasi, jumlah uang beredar, nilai tukar dan variabel dunia yang  direpresentasikan oleh GDP, suku bunga Fed, inflasi, dan jumlah uang beredar di Amerika.: Bentuk persamaan Granger Causalitynya adalah :………

Dimana :

M2_ind           = Uang Kartal (Uang kertas dan uang koin) ditambah Uang Giral ditambah Uang  Kuasi (Uang yang disimpan dalam rekening tabungan dan deposito berjangka) Indonesia pada periode t.

CPI_ind          = Inflasi IHK Indonesia pada periode t.

SBI_ind          = Suku bunga SBI 1 bulan Indonesia pada periode t.

GDP_ind         = Gross Domestic Product Indonesia pada periode t.

ER                   = Nilai Tukar rupiah terhadap Dollar pada periode t.

M2_us             = Uang Kartal (Uang kertas dan uang koin) ditambah Uang Giral ditambah Uang  Kuasi (Uang yang disimpan dalam rekening tabungan dan deposito berjangka) Amerika Serikat pada periode t.

CPI_US          = Inflasi IHK Amerika pada periode t.

FFR_US          = Tingkat suku bunga Amerika (Fed Fund Rate) pada periode t.

GDP_US         = Gross Domestic Product Amerika pada periode t.

= Koefisien regresi

υt = error term

L                      = Operator lag

∆                      = Notasi First Different

Ada 4 kemungkinan yang bisa timbul dalam uji Granger Gujarati (2003:696-697), yaitu :

  1. Undindirectional causality dari Y ke X, artinya kausalitas satu arah dari Y ke X terjadi jika koefisien lag Y pada Persamaan Yt(i) adalah secara statistik signifikan berbeda dengan nol () dan koefisien lag X pada persamaan Xt (ii)secara statistik sama dengan nol ()
  2. Uninderectional causality dari X ke Y, artinya kausalitas satu arah dari X ke Y terjadi jika koefisien lag Y pada persamaan Yt (i) secara statistik sama dengan nol ()dan koefisien lag X pada Persamaan Xt (ii) secara statistik signifikan berbeda dengan nol ().
  3. Feedback atau Bilateral Causality, artinya kausalitas timbal balik yang terjadi jika koefisien lag pada y dan lag X adalah secara statistic signifikan berbeda dengan nol pada kedua persmaan Yt dan Xt diatas ( dan ).
  4. Interdependence, artinya tidak saling tergantung, yang terjadi jika koefisien lag Y dan lag X adalah secara statistik sama dengan nol pada persaman Yt dan Xt ( dan ).

Hipotesis statistik untuk menguji kausalitas dengan pendekatan granger adalah :

artinya suatu variabel tidak mempengaruhi variabel lain

artinya suatu variabel mempengaruhi variabel lainnya.

Selanjutnya, bila diperoleh hubungan yang dua arah, maka akan dilanjutkan dengan menggunakan metode VAR. Sedangkan bila hanya terdapat sedikit variabel yang memiliki hubungan timbal balik maka menggunakan VECM.

3.6.1.4. Estimasi Model VECM

VECM adalah model yang dapat digunakan dalam menganalisis tingkah laku variabel dalam jangka pendek terhadap nilai jangka panjangnya. Langkah awal untuk menghindari regresi palsu adalah dengan melakukan uji kointegrasi. Kombinasi linear dari dua variabel non stasioner adalah stasioner,  sehingga regresi dua variabel mengalami kointegrasi, yaitu bahwa kointegrasi antara variabel-variebel tersebut menujukkan adanya hubungan kangka panjang.

Langkah selanjutnya adalah pemilihan lag optimal yang tepat, sehingga dapat menghasilkan residual yang bersifat bersifat Gaussian yang berarti terbebas dari permasalahan autokorelasi dan Heteroskedasitas. Dalam menganalisa perilaku dinamis dari model VECM, dapat dilihat melalui impulse response dan variance decomposition.

3.6.2.4.1.  Fungsi Impulse Respon

Impulse response, adalah salah satu metode VAR (VAR atau VECM?) yang digunakan untuk melihat response variabel endogen terhadap adanya pengaruh inovasi (shock) variabel endogen yang lain.Fungsi impulse response juga menggambarkan tingkat laju dari shock variabel yang satu terhadap variabel yang lainnya pada suatu rentang periode tertentu. Sehingga kita dapat melihat lamanya pengaruh dari shock suatu variabel terhadap variabel lain sampai pengaruhnya hilang atau kembali ke titik keseimbangan.

Salah satu ciri penting dari model yang digunakan adalah memperbolehkan  untuk melacak response dari variabel tergantung sampai keluar alur waktu (time path) bila terjadi perubahan shock melalui dan (untuk model bivariate) yang terdapat dalam sistem VAR.

Suatu autoregressive memiliki sebuah representasi rata-rata bergerak (moving average representation ), sehingga vector auto regressive dapat ditulis sebagai suatu vektor rata-rata bergerak atau VMA /Vector Moving Average (Enders :1995). Analisis fungsi impulse response dalam bentuk VMA dari Bentuk standar VAR dapat ditulis :

…………………………………………..(11)

Dimana :

Jika dituliskan dalam bentuk standart VAR maka didapat persamaan berikut :

……………………………………(12)

Dimana Yt dan Xt mempunyai hubungan dengan dan secara berurutan. Dengan menggunakan  dan , selanjutnya dengan operasi matriks aljabar maka vector error dapat ditentukan menjadi :

……………………………..(13)

Moving Average representation dapat ditulis dengan kaitan dan secara berulang menjadi :

………………………….(14)

Empat satuan fungsi koefisien inilah yang disebut dengan Impulse Response Function (IRF). IRF merupakan cara praktis yang dapat digunakan untuk melihat perilaku dari Yt dan Xt dalam merespon berbagai shock. Dan IRF inilah yang nantinya digunakan sebagai alat analisis untuk melihat seberapa lama variabel domestic dalam merespon pergerakan variabel-variabel dunia.

3.6.2.4.1 Variance Decompositions

Variance decomposition adalah perangkat model VAR yang memisahkan variasi dari sejumlah variabel menjadi variabel inovation, dengan asumsi variabel-variabel innovation tidak saling berkorelasi.Ia akan memebrikan informasi tentang proporsi pengaruh shock terhadap shock variabel yang lain pada periode sekarang dan yang akan datang. Enders (1995 )mengidentifikasi bahwa variance decomposition merupakan proporsi dari terhadap shock y dan shock X. Sehingga variance Decomposition pada shock y dapat ditulis sebagai berikut :

…………………(15)

Sedangkan variance Decomposition pada shock x dapat ditulis sebagai berikut :

……………(16)

DAFTAR PUSTAKA

Arin, K.Peren and Sam P. Jolly.2005.”Trans-Tasman Transmission of Monetary Shocks : Evidence From A Var Approach.Atlantic Economics Journal 34:22

Badan Pusat Statistika. 1990. ”Statistik Indonesia”. Jakarta

__________________. 1995. ”Statistik Indonesia”. Jakarta

__________________ 2000. ”Statistik Indonesia”. Jakarta

__________________. 2006. ”Statistik Indonesia”. Jakarta

Blanchard, Olivier. 2000.” Macroeconomics”. Massachusetts Institute of Technology: Prentice Hall International.

Cavoly,Tony, Ramkishen.2005.”Inflation Targetting and Monetary Policy Rules For Small and Open Developing Economies : Simple Analytics with application to Thailand”.

Christiano, L., Eichenbaum, M, 1992. Liquidity Effects and the Monetary Transmission Mechanism. American Economic Review 82, 346-353.

Desroches,Brigitte.2004.”The Transmission of World Shocks to Emerging-Market Countries: An Empirical Analisyst”. Bank of Canada Working paper 2004:44

Dungey,Nardi.2001.”International Shock and The Role of Domestic Policy in Australia”.Centre for Economic Policy Research Discussion Paper No.443.

Enders, W., 1995, “Applied Econometric Time Series”, John Wiley and Sons, New York.

Friedman, M., Schwartz, A., 1963. “A Monetary History of the United States, 1867-1960, National Bureau of Economic Research. Princeton, N.J.: Princeton University Press.

________________.2003.”The economics of Money, Banking,and Financial Markets”.Columbia University

Gujarati, Damodar N.1995.”Basic Econometric”s. Singapore : McGraw-Hill.

Haris, Richard.1995.”Cointegration Analysis in Econometric Modelling”.New York:Prentice Hall.

Hoffmaister, A.W dan J.E Roldos.1997.”Are Bussiness Cycles Different in Asia and Latin America?”.IMF Working paper 97:9

Ibrahim, Mansor H. 2003.” International Disturbances and Domestic Macroeconomic Fluctuations in Malaysia”. ASEAN Economic Bulletin. Vol. 20 No. 1. pp. 11-30.

Insukindro.1992.Pengantar Ekonomi Moneter.Jogjakarta:BPFE UGM

International Monetary Fund.2006. International Financial Statistic.

Jimenez, J.F. 2001.“Business Cycles in Small Open Economies : The Case of Costa Rica”.Working Paper No. 330.

Kostov,Philip dan John Lingar.2000.”Regime-switching Vector Error Correction Model (VECM) analysist of UK meat”.

Lorenzoni, Guido.2006.”A Theory of Demand Shocks”.National Bureau of economic Research. Working Paper 12477: 1-5

Mankiw, N. Gregory. 2000. ”Teori Makro Ekonomi”. Edisi Keempat. Terjemahan. Jakarta: Erlangga

Mishkin, Frederich.1996. “The Channels of Monetary Transmission : Lesson for Monetary Policy” .National Bureau of Economic Research Working Paper vol 5464: 2

Mubyarto. 2003. ” Teori Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi Dalam Ekonomi Pancasila ”. Jurnal Ekonomi Rakyat. Edisi 16: 4

Parrado,Eric.2001. “Effect of Foreign and Domestic Monetary policy in Small Open  Economy : The Case of Chile.Central Bank of Chile “. Working paper No. 108

Samuelson, Paul A dan William D.Nordhaus.2001.”Ilmu Makroekonom”i.Edisi Tujuh Belas.Terjemahan .Jakarta:PT Media Global Edukasi.

Sims, Christopher A. (1982), “Policy analysis with econometric models”, Brookings Papers on Economic Activity 1, 107-164.

Svensson, Lars E.O.1999.” Inflation targeting: Some extensions”, Scandinavian Journal of Economics 101(3), 337-361.

Taylor,John B.1995. “The Monetary Transmission Mechanism: An Empirical Framework,” Journal of Economic Perspective,Fall vol 9:11-26

Tyers, Rod and Yongzheng Yang .2001. “The Asian financial crisis and economic change in China”. Japanese Economic Review 52(4), 492-511.

Warjiyo, Perry. 2004. ”Mekanisme Transmisi Kebijakan Monete”r. Jakarta: Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan Bank Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: